Ibu Yang Berarti

Orang bilang mataku berwarna “cokelat sapi” dan rambut pirang panjangku adalah bagian diriku yang paling menarik. Hidungku agak kebesaran; wajahku berbentuk bulat telur. Aku  tidak gemuk, aku juga tidak kurus kering. Satu –satunya menggambarkan tingiku adalah aku merupakan “tantangan vertical”.

Aku cukup bahagia dengan penampilanku, tapi dari mana aku mendapatkannya? Apakah aku memiliki yang sama dengan seorang asing? Sering, ketika sedang menyusuri jalan, aku mencoba mencari orang asing itu, membayangkan salah satu wanita yang berpapasan denganku bisa jadi adalah ibu biologisku.

Aku tak pernah bertemu ibuku. Aku diadopsi sejak lahir, dan aku diangkat oleh keluarga yang sangat baik. Lama aku bertanya –tanya akan seperti apa hidupku dengan ibu kandungku? Apakah aku akan tetap sama? Dimana aku akan tinggal? Apakah aku akan menjadi lebih bahagia? Siapa yang akan menjadi teman –temanku?

Aku tidak pernah tidak puas dengan dengan hidupku; aku hanya tak pernah berhenti membayangkan akan seperti apa rasanya dibesarkan oleh ibuku sendiri. Dan kemudian suatu hari,aku sedang menjaga anak seorang teman, dan menemukan sebuah puisi di dinding kamr anak –anak. Isinya membandingkan sebuah benih yang ditanam oleh satu orang, dan kemudian dirawat oleh orang lain. Orang yang kedua menyirami benih tersebut dan membuatnya tumbuh tinggi serta indah. Aku merasa isi puisi itu sangat cocok dengan situasiku.

Aku sadar ibuku telah menjadikanku sebagai diriku yang sekarang, tak perduli seperti apa pun rupa kami. Dan aku menyadari bahwa kami mempunyai kepribadian konyol yang sama, pandangan hidup yang sama dan cara yang sama dlam memperlakukan orang, serta juga banyak hal lainnya yang sama. Ia selalu ada untuk semua yang penting, dan apa yang bisa menandinginya? Ia ibuku.

Kadang kalau kami pergi kesuatu tempat, orang –orang mengomentari kemiripan kami, dan kami saling pandang lalu tertawa, baru diingatkan lagi bahwa bukan dialah yang mengandung aku selama sembian bulan.

Meski aku mungkin tidak tahu mengapa rupaku seperti ini, aku tahu kenapa aku bisa menjadi diriku yang sekarang. Ibuku yang sekarang kumiliki adalah yang terbaik yang bisa kuperoleh, bukan saja ia memiliki segunung cinta yang tak bersyarat, tapi ia juga telah membentukku menjadi diriku yang sekarang, kualitas dan kharakteristikku.

Dialah yang membuatku cantik!

~ oleh deqmput pada 17 September 2008.

Satu Tanggapan to “Ibu Yang Berarti”

  1. 🙂 prosa liris yg indah. karya sendiri ini kisah nyata? kalo fiksi, sy salut dgn imajinasi-nya dlm penokohan ‘Aku’ dgn kondisinya yg unik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: